Pada Lembar yang Sudah Dibaca
Ditampikkan berkali kali
Dengan menampikkanmu yang juga kulakukan berkali-kali ternyata lelah ya
Membohongimu sama seperti membohongi diriku sendiri
Ternyata setulus dan selalu ada masih belum cukup untuk terlihat ada
Untuk terlihat berharga
Lalu kita apa?
Aku fikir kau sungguh-sungguh pulang Menghiburmu
Mendengarkan ceritamu yang menggema disertai tawa lepas
Ternyata ini rasanya berada di garis terdepan
Telingaku yang selalu siap untuk mendengar tawa dan keluh kesahmu
Tanganku yang tak berhenti menggenggam agar kau terus disini
Bibirku yang selalu setia menimpa pembicaraanmu agar tak terputus akan pembicaraan kita
Aku yang bahkan tak sanggup untuk bicara cemburu
Tahan, tahan dulu kataku
Aku tak ingin kita seperti dahulu
Dua orang yang pernah bersama menjadi asing secara perlahan
Jika memang tak bisa, mengapa egois untuk kembali menghubungi
Mengapa egois dengan
menampikkan rasa yang sudah kau tahu bahkan sejak setelah kita berpisah
Jika difikirkan ternyata tak mudah ya menjadi penulis yang menulis ceritanya dengan suka cita tapi pembacanya
cuman ingin membaca bukunya hanya sekali
Lalu buku itu diasingkan
Untuk membeli buku yang baru
Yang mungkin lebih menarik dari buku sebelumnya
Padahal, buku itu dibuat dengan senang hati berharap menarik bagi pembaca meski telah dibaca berulang kali
Tapi aku fikir, beberapa orang membuka kembali buku yang telah dibacanya
Untuk mengingat kembali hal-hal yang tak ia jumpai di buku lain
Komentar
Posting Komentar