Terimakasih, untuk 120 menitnya
Deringan telfon ku membuat khayal ku langsung membuyar
Kulihat nama di layar handphone yang sejak tadi aku acuhkan
Tersirat senyum simpul di wajahku
Hai,
Katamu
Ah iya, hai
Aku mencubit sedikit pipiku
Rupanya nyata
Cerita demi cerita
Dengan alur yang tak menentu
Kau tau?
Tuhan mengabulkan doaku
Rindu yang sering ku titipkan lewat doa
Rindu yang sejak lama ku pendam
Rindu yang sering tuhan berikan tentang dirimu melalui mimpi
Kini, ia berikan suaramu yang nyata
Dibalik rasa bahagia kita
Aku tau, ada tangis disana
Tak lupa juga, ada tawa dibalik hal yang menyesakkan dada
Tapi tak apa, sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapku
Setelah kita memilih jalan untuk kita lewati sendiri-sendiri
Ternyata kau juga sakit, katamu
Aku?
Jangan kau tanya
Sama
Sepertimu
Perasaan ku tak jauh berbeda darimu
Bahkan lebih parah
Tapi tuhan baik
Ia memberiku alasan untuk tertawa, alasan mengapa aku harus tetap tersenyum
Menit menit berlalu
Tak terasa telah 120 menit suaramu menggema di telingaku
Tak lupa ku rekam pembicaraan kita
Hal tak penting ya?
Tapi itu yang biasa kita lakukan bukan?
Pembicaraan dan hal-hal tak penting yang selalu kita lakukan dahulu
Yasudah, sampai disini dulu ya
Nanti jika tuhan beri kesempatan kita lagi, ingatkan aku ya untuk merekam pembicaraan kita
Terimakasih, untuk 120 menitnya
Kulihat nama di layar handphone yang sejak tadi aku acuhkan
Tersirat senyum simpul di wajahku
Hai,
Katamu
Ah iya, hai
Aku mencubit sedikit pipiku
Rupanya nyata
Cerita demi cerita
Dengan alur yang tak menentu
Kau tau?
Tuhan mengabulkan doaku
Rindu yang sering ku titipkan lewat doa
Rindu yang sejak lama ku pendam
Rindu yang sering tuhan berikan tentang dirimu melalui mimpi
Kini, ia berikan suaramu yang nyata
Dibalik rasa bahagia kita
Aku tau, ada tangis disana
Tak lupa juga, ada tawa dibalik hal yang menyesakkan dada
Tapi tak apa, sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapku
Setelah kita memilih jalan untuk kita lewati sendiri-sendiri
Ternyata kau juga sakit, katamu
Aku?
Jangan kau tanya
Sama
Sepertimu
Perasaan ku tak jauh berbeda darimu
Bahkan lebih parah
Tapi tuhan baik
Ia memberiku alasan untuk tertawa, alasan mengapa aku harus tetap tersenyum
Menit menit berlalu
Tak terasa telah 120 menit suaramu menggema di telingaku
Tak lupa ku rekam pembicaraan kita
Hal tak penting ya?
Tapi itu yang biasa kita lakukan bukan?
Pembicaraan dan hal-hal tak penting yang selalu kita lakukan dahulu
Yasudah, sampai disini dulu ya
Nanti jika tuhan beri kesempatan kita lagi, ingatkan aku ya untuk merekam pembicaraan kita
Terimakasih, untuk 120 menitnya
Komentar
Posting Komentar